Mudahnya Membuat Aplikasi Android, Mulai dari Buruh Panggul hingga Anak-Anak Bisa Melakukannya

Mudahnya Membuat Aplikasi Android, Mulai dari Buruh Panggul Hingga Anak-Anak Bisa Melakukannya – Era digital seperti sekarang memberikan akses mudah ke dunia maya secara besar-besaran. Indonesia terbukti memiliki potensi yang besar dalam pemanfaatan sektor yang satu ini. Salah satunya adalah peluang menjadi seorang developer aplikasi Android.

Menjadi seorang developer aplikasi Android tidak begitu sulit. Asalkan, memiliki minat belajar yang tinggi dan tidak pantang menyerah, hal itu bisa dicapai. Buktinya, ada berbagai orang yang notabene tidak berlatar belakang dunia teknologi informasi (TI) bisa melakukannya. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti kursus membuat aplikasi android.

Beberapa sosok developer Android pun bisa menjadi teladan. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda. Mulai dari seorang yang dulunya bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan, hingga sosok yang masih anak-anak. Bahkan, ada pula yang sudah memulai menjadi pemilik perusahaan di usia muda berkat kemampuannya itu.

Buruh Panggul Pelabuhan Henry Jhie

Sosok pertama adalah seorang buruh panggul dari Kota Makassar Hendri Jhie. Pria yang satu ini memulai kariernya sebagai seorang developer aplikasi Android sekitar akhir tahun 2015. Dia memulainya dengan tetap melakukan pekerjaan hariannya sebagai seorang buruh panggul.

Sepulang kerja dari pelabuhan, Hendri menghabiskan waktu sekitar 4-6 jam belajar cara membuat aplikasi Android. Bebekal laptop bekas dengan RAM yang irit, hanya 1 GB, Hendri melakukan aktivitasnya dengan tekun. Hasilnya pun mengejutkan. Pertengahan tahun 2015, Hendri mendapatkan ‘gaji’ dari Google dengan nilai mencapai US$1.000.

Uang tersebut diperolehnya dari beberapa aplikasi Android yang diunggahnya ke Google Play Store. Per Agustus 2017, total terdapat 7 aplikasi dan game Android yang telah dimiliki oleh Hendri. Semua aplikasi tersebut bisa diunduh secara gratis. Hendri memanfaatkan platform iklan Google sebagai sarana menghasilkan uang.

Raihan Parlaungan, Fasilitator Termuda Program Pembelajaran Android

Lain halnya dengan sosok Muhammad Raihan Parlaungan. Di usianya yang masih 15 tahun, remaja yang sehari-hari disapa Paung ini tak hanya bisa menciptakan aplikasi Android. Namun, dia juga menjadi sosok fasilitator dalam sebuah program pembelajaran cara membuat aplikasi Android. Di situ, dia pun menjadi sosok fasilitator termuda.

Paung yang kini duduk di kelas 10 SMK Madinatul Quran, Jonggol, Bogor, memulai petualangannya di dunia pemrograman Android saat kelas 7 SMP. Pada awalnya, dia berkeinginan menjadi seorang hacker. Impiannya tersebut diwujudkan dengan cara belajar secara otodidak.

Saat ini, Paung pun mencatatkan diri sebagai salah satu developer aplikasi Android termuda Indonesia. Beberapa aplikasinya nongol di Google Play Store, seperti Homework Discussion, Doa Sehari-hari, dan Jurnal Devslim.

Thomas Suarez, Mendirikan Perusahaan Developer Aplikasi di Usia 15 Tahun

Ada pula sosok Thomas Suarez yang tidak kalah keren. Remaja yang lahir pada tahun 2002 ini sudah memiliki perusahaan sendiri, yakni Carrot Corp. Perusahaannya membuat berbagai jenis aplikasi. Termasuk di antaranya adalah aplikasi Android, iOS, serta Google Glass.

Thomas memulai langkah awal menjadi seorang developer di usia 9 tahun. Seperti halnya Paung, dia juga belajar secara otodidak. Berbagai bahasa pemrograman dikuasai oleh Thomas. Termasuk di antaranya adalah Pyton, Java, dan C.

Tiga orang tersebut menjadi sosok yang sangat menginspirasi dalam memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Anda juga ingin seperti mereka, kan? 🙂